Budaya Kimono


Ada pepatah kuno mengatakan bahwa “ suatu bangsa diatas dapat dikenali dari bahasanya”. Memang benar kata pepatah diatas untuk mengetahui seseorang berasal dari bangsa mana salah satunya mengenali bahasa yang digunakannya. Bahasa tidak bisa lepas dari identitas kultural seseorang. Suatu bangsa memiliki ciri-ciri yang dapat di identifikasi dari aspek bahasa, pakaian, tradisi dan adat-istiadat. Misalnya, Negara Jepang merupakan negara dalam perspektif holistik karakter negara-negara di dunia dapat dikategorikan sebagai negara yang unik dan penuh dengan dinamika lokalitas homogen. Berbeda dengan Indonesia jika Indonesia mempunyai akar budaya, multi-etnik dan heterogen. Jepang sebagai salah satu contoh kontra budaya dengan Indonesia. Karakter masyarakat Jepang yang kuat di tengah-tengah globalisasi tidak harus memaksakan masyarakat Jepang untuk menjadi (to being) Jepang. Secara sosiologis Jepang sebagai bangsa mempunyai struktur sosial yang seragam,harmonis, spiritual pragmatis dan patuh pada aturan. Sehingga proses Jepangisasi atau menjepangkan orang jepang tidak terjadi seperti yang terjadi di negara Amerika. Dimana bangsa Amerika yang berakar dari sejarah koloni-koloni dan imigran telah terjadi proses amerikanisasi orang Amerika. Kedengarannya sangat aneh tetapi itu yang terjadi di negara Amerika. Berbagai program dilakukan hanya semata-mata untuk menjadikan orang Amerika sebagai Amerika sejati (true Amerikan).
Tetapi proses Amerikanisasi tidak terjadi di negara jepang. Kontruksi sosial masyarakat Jepang yang unik telah menjadikan Jepang sebagai bangsa yang memiliki identitas kultural yang kuat. Dalam studi kefilsafatan tentang masyarakat Jepang apa yang menjadi fokus perhatian terletak pada 3 aspek kajian utama yaitu aksiologis,epsitemologis dan ontologis. Dalam aspek aksiologis pada umumnya meletakkan fondasi dalam lingkup budaya yang berarti mengkaji tentang adat-istiadat, tradisi dan pakaian tradisional (kimono). Kajian ini sebagai studi relevansi terhadap budaya dalam realitas sosial.
Pandangan umum yang dibangun dalam kajian aksiologis adalah mencari dan menemukan makna yang terdalam sebagai filsafat tersembunyi dari budaya yang ada di Jepang. Sebagaimana kajian pakaian adat (Kimono) sebagai objek pembelajaran filosofis tentang budaya Jepang kekinian. Untuk meneropong lebih jauh apa yang terjadi dalam studi budaya dan masyarakat Jepang dengan mengambil pakaian adat kimono sebagai objek material maka dibutuhkan analisis aksiologis. Dalam filsafat, analisis aksiologis mencoba mencari unsur-unsur nilai yang dibangun oleh objek atau terbentuk dari subjek penilai. Jika kimono dikatakan sebagai suatu nilai kearifan lokal yang berdiri sendiri kecenderungan nantinya dimensi nilai akan bersifat self-evident.
Dalam menganalisis fenomena budaya manusia menjadi pusat perhatian yang tidak dapat berdiri sendiri. Daya tarik utama mengapa manusia menjadi pusat perhatian didasarkan pada bahwa hanya manusia yang mampu membuat perubahan dan menciptakan produk budaya. Kimono adalah salah satu dari produk budaya manusia Jepang yang sarat dengan nilai-nilai filosofis. Dengan kimono sebagai identitas kultural yang melekat dalam masyarakat Jepang menjadikan budaya sebagai proses organis yang hidup sesuai dengan perubahan zaman. Kimono tidak hanya sekedar menjadi identitas kultural tetapi juga mempunyai makna kearifan lokal yang ada dalam model pakaian kimono.
Kimono dalam bingkai kearifan lokal
Tak kenal maka tak sayang adalah falsafah umum yang selalu diungkapkan oleh anak muda untuk menyatakan cinta atau rasa senang kepada kekasihnya. Ungkapan tersebut tidak hanya berlaku dalam kisah percintaan. Tetapi dalam kondisi apapun bisa menjadi pembuka untuk menjalin hubungan persahabatan saat ini. Hubungan persahabatan Indonesia-Jepang sudah berlangsung selama 50 tahun. Jika diibaratkan dalam perkawinan merupakan ulang tahun perkawinan emas. Hubungan yang sudah lama dibangun antara Indonesia-Jepang telah banyak memberikan keuntungan diantara kedua belah pihak. Mulai dari semakin eratnya kerjasama bilateral kedua negara hingga pengenalan budaya yang semakin terus digali seperti misalnya pemerintah Jepang berperan serta aktif memasarkan batik di negaranya dengan membuat perangko bergambar batik dan ikut terlibat melestarikan beberapa kesenian Indonesia seperti gamelan, wayang dan tari tradisional. Hal ini menunjukkan produk budaya mampu menciptakan kesepahaman dan toleransi dan budaya telah melahirkan kearifan lokal yang mendunia.
Nilai kearifan lokal dapat dijumpai dalam pakian tradisional jepang yaitu Kimono. Meskipun anak remaja Jepang sekarang ini sudah jarang mengenakan pakaian Kimono. Kimono masih menjadi unsur penting dalam budaya masyarakat Jepang. Unsur yang menonjol dalam pakaian kimono adalah terletak pada karakter dan corak pakaian kimono yang unik. Keunikan Pakaian kimono dapat dilihat. Pertama, teknik memakai pakian kimono yang tidak semua orang bisa memakainya. Kedua, kimono sebagai simbol penghargaan atas kaum perempuan yang menjaga adat ketimuran yaitu adat yang suka melihat perempuan berpakaian pantas dan sopan di depan umum. Ketiga, kimono memberikan pesan moral bahwa perempuan hendaknya selalu berpakaian yang rapi, sopan dan pantas di depan umum.Kimono dalam identitas kebangsaan
Bangsa yang besar lahir bukan dari rahim kolonialisme tetapi untuk menjadi bangsa yang besar diperlukan identitas kultural yang mapan dan kuat. Jepang telah membuktikan bahwa bangsa Jepang mempunyai identitas sebagai bangsa yang berkarakter kebangsaan. Salah satunya dapat dilihat dari budaya yang masih dilestarikan hingga sekarang. Misalnya, pakian tradisional kimono menjadi salah satu tren mark Negara Jepang. Begitu orang mendengar kata kimono pasti merujuk pada negara Jepang. Keberhasilan Negara Jepang dalam membangun image kebangsaan telah menjadikan Jepang dikatakan sebagai bangsa yang besar. Identitas kimono yang tidak bisa terlepas dari bahasa dan budaya Jepang. Seolah-olah telah menghipnotis bangsa lain untuk mengakui identitas kejepangan tanpa harus melakukan jepangisasi bagi rakyatnya. Ekspansi kebudayaan dan bahasa yang mengalir begitu saja telah membawa keberuntuangan tersendiri bagi negara Jepang untuk mempromosikan kebudayaan Jepang secara masif ke seluruh dunia. Sehingga dapat dibayangkan bahwa budaya telah memberikan dampak pada kuatnya identitas suatu bangsa.Dimensi Aksiologis Kimono
Filosofi pakaian kimono tidak hanya sekedar sebagai identitas kebangsaan dan kearifan lokal dalam masyarakat Jepang karena Jepang dalam era kekinian juga telah membawa dampak pada eksistensi pakaian kimono sebagai budaya. Dalam perekembangannya pakian kimono mulai tergusur oleh arus globalisasi budaya barat. Sehingga kimono semakin lama mulai kehilangan identitasnya. Satu hal yang menjadi catatan penting adalah nilai-nilai tradisi dan filosofis dari pakaian kimono masih tetap tinggal dan berakar kuat dalam masyarakat Jepang. Inilah yang menjadikan Jepang tetap eksis di tengah-tengah arus globalisasi kebudayaan.
Dimensi yang menonjol dalam pakian kimono dapat dilihat dari konsistensi model dan karakter pakian kimono yang tidak berubah. Meskipun kuatnya pengaruh perkembangan model busana modern yang begitu pesat di Jepang seperti harajuku tidak dapat menyentuh pakian kimono yang mempunyai karakter tersendiri. Nilai-nilai yang ada dalam pakaian kimono telah melebar menjadi satu dengan realitas masyarakat Jepang seperti kesopanan, kerapian, keteraturan, ketertiban dan kepatuhan masih menjadi nilai-nilai utama dalam masyarakat Jepang secara umum.Kesimpulan
Pakaian Kimono sebagai pakaian tradisional Jepang memberikan identitas bagi masyarakat Jepang yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal dan adat ketimuran dalam hal ini ada beberapa nilai yang dapat dipelajari dalam pakaian kimono yaitu:
  1. Pakaian kimono menunjukkan konsistensi masyarakat Jepang yang tidak mudah goyah terhadap arus perubahan yang terjadi di era globalisasi sekarang ini.
  2. Nilai kearifan lokal yang menonjol dalam pakian kimono terletak pada karakter dan corak pakaian tersebut. Karakter yang selalu menonojol adalah kerapaian, kebersihan dan kelengkapan membentuk karakter manusia Jepang untuk selalu patuh dan taat pada tradisi lokal.
  3. Pakaian kimono adalah salah satu produk budaya yang berdaya cipta luhur sesuai dengan spirit kejepangan.
  4. Pakaian kimono mempunyai makna filosofis yaitu penghargaan terhadap leluhur dan mecintai keharmonisan.
  5. Pakaian kimono sebagai simbol penghargaan atas kaum perempuan